Friday, December 31, 2010

adab menziarahi tetamu

  • Memuliakan tamu hukumnya wajib, sebagaimana sabda Rasulullah :
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ اْلأخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ
"Barang siapa yang beriman pada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya".
Adapun masa penjamuannya ialah sebagaimana dijelaskan dalam hadits Nabi :
الضِّيَافَةُ ثَلاَثَةُ أَيَّامٍ وَجَائِزَتُهُ يَوْمٌ وَلَيَْلَةٌ وَلاَيَحِلُّ لِرَجُلٍ مُسْلِمٍ أَنْ يُقيْمَ عِنْدَ أَخِيْهِ حَتَّى يُؤْثِمَهُ قاَلُوْا يَارَسُوْلَ اللهِ وَكَيْفَ يُؤْثِمَهُ؟ قَالَ :يُقِيْمُ عِنْدَهُ وَلاَ شَيْئَ لَهُ يقْرِيْهِ بِهِ
"Menjamu tamu itu tiga hari adapun memuliakannya sehari semalam dan tidak halal bagi seorang muslim tinggal di saudaranya sehingga ia menyakitinya, para sahabat berkata: ya Rasulallah bagaimana menyakitinya? Bersabda Rasulullah : Tinggal bersamanya sedangkan ia tidak mempunyai apa-apa untuk menjamu tamunya".

  • Disunahkan mengucapkan selamat datang kepada para tamu sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas ia berkata:
لَمَّا قَـدِمَ وَفْدُ أَبِي اْلقَيْسِ عَلىَ النَّبِيِّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَرْحَبًا بِاْلوَفْدِ الَّذِيْنَ جَاءُوْا غَيْرَ خَزَابَا وَلاَ نَدَامَى
"Tatkala utusan Abi Qais datang kepada Nabi , Beliau bersabda: Selamat datang kepada para utusan yang datang tanpa merasa terhina dan menyesal".

  • Wajib memenuhi undangan sebagaimana sabda Rasulullah :
وَمَنْ تَرَكَ الدَّعْـوَةَ فَقَدْ عَصَى اللهَ وَرَسُوْلَهُ
"Barang siapa yang tidak memenuhi undangan maka ia telah bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya."
Beliau juga bersabda:
حَقُّ اْلمُسْلِمِ عَلىَ اْلمُسْلِمِ خَمسْ ٌ- وَذَكَرَ مِنْهَا – وَإِجَابَةُ الدَّعْـوَةِ
"Kewajiban seorang muslim kepada muslim yang lainnya ada lima-diantaranya disebutkan-Memenuhi undangan".
Sebagian para ulama menyebutkan untuk menghadiri undangan maka harus memenuhi syarat sebagai berikut:
    • Orang yang mengundang bukan orang yang harus dihindari dan dijauhi.
    • Tidak ada kemungkaran pada tempat undangan tersebut.
    • Orang yang mengundang adalah muslim.
    • Penghasilan orang yang mengundang bukan dari penghasilan yang diharamkan, sementara ulama yang lain mengatakan dosanya bagi orang yang mengundang, berbeda dengan jika sesuatu yang diharamkan itu zatnya, seperti minuman keras.
    • Tidak menggugurkan suatu kewajiban tertentu ketika menghadiri undangan tersebut.
    • Tidak ada madharat bagi orang yang menghadiri undangan.
  • Sebagian ahli fiqh berkata: Wajib bagi tamu memenuhi empat syarat:
Pertama: Duduk di mana dia ditempatkan.
Kedua: Ridho dengan apa-apa yang dihidangkan.
Ketiga: Tidak beranjak meninggalkan tempat duduk melainkan setelah meminta izin dari tuan rumah.
Keempat: Berdo'a bagi tuan rumah bila hendak pamitan pulang.
  • Ibnul Jauzi rahimahullah berkata: "Dan di antara adab orang yang bertamu adalah tidak melirik-lirik makanan dengan matanya, bila diberi pilihan di antara dua makanan, maka hendaklah dia memilih yang lebih kiri (darinya) kecuali ia mengetahui bahwa orang yang menghidangkan itu senang jika dia mengambil makanan yang ada di sebelah kanan".
  • Puasa tidak menghalangi seseorang untuk menghadiri undangan, sebagaimana sabda Rasulullah :
إذَا دُعِىَ أَحَدُكُمْ فَلْيُجِبْ فَإِنْ كَانَ صَاِئمًا فَلْيُصَِلِّ وِإِنْ كَانَ مُفْـطِرًا فَلْيُطْعِمْ
"Bilamana salah seorang di antara kalian di undang, maka hadirilah, bilamana ia puasa maka berdo'alah dan bilamana tidak maka makanlah".
  • Nabi bertamu kepada Abdullah bin Amr,' kemudian ia mengambil karpet untuk beliau yang terbuat dari kulit di mana ujung-ujungnya lembut sekali, lalu beliau duduk di atas tanah dan karpet tersebut berada diantara Nabi dan Abdullah bin Amr'.
  • Bilamana seorang tamu datang bersama orang yang tidak diundang, maka ia harus meminta izin kepada tuan rumah sebagaimana hadits riwayat Ibnu Mas'ud radhiallahu anhu:
كَانَ مِنَ اْلأَنْصَارِ رَجـُلٌ يُقَالُ لُهُ أَبُوْ شُعَيْبُ وَكَانَ لَهُ غُلاَمٌ لِحَامٌ فَقَالَ اِصْنَعْ لِي طَعَامًا اُدْعُ رَسُوْلَ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَامِسَ خَمْسَةٍ فَدَعَا رَسُوْلَ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَامِسَ خَمْسَةٍ فَتَبِعَهُمْ رَجُلٌ فَقَالَ رَسُوْلَ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّكَ دَعَوْتَنَا خَامِسَ خَمْسَةٍ وَهذَا رَجُلٌ قَدْ تَبِعَنَا فَإِنْ شِئْتَ اْذَنْ لَهُ وَإِنْ شِئْتَ تَرَكْتُهُ قَالَ بَلْ أَذْنْتُ لَهُ.
"Ada seorang laki-laki di kalangan Ansor yang biasa di panggil Abu Syuaib, Ia mempunyai seorang anak tukang daging kemudian ia berkata kepadanya: Buatkan aku makanan di mana aku bisa mengundang lima orang bersama Rasulullah . Kemudian Rasulullah mengundang empat orang di mana orang yang kelimanya adalah beliau, kemudian ada seseorang yang mengikutinya, maka Rasulullah berkata: Engkau mengundang kami lima orang dan orang ini mengikuti kami, bilamana engkau ridho izinkanlah ia, dan bilamana tidak maka aku akan meninggalkannya, Kemudian Abu Suaib berkata: Aku telah mengizinkannya".
  • Pelayan orang besar (terpandang) hendaknya mengikuti undangan tersebut sesuai dengan perkataan Anas . Seseorang mengundang Nabi kemudian aku berangkat bersamanya, orang itu menghidangkan kuah yang didalamnya ada dhuba (Semacam mentimun besar), Rasulullah menyukai dan memakan kuah tersebut, tatkala aku melihat hal itu, aku tidak mengambil makanan tersebut dan tidak pula memakannya, Anas berkata: Aku senantiasa senang dengan makanan dhuba.
  • Tidak selayaknya berlebih-lebihan dalam menjamu tamu, sehingga keluar dari kewajaran dan standar berlebih-lebihan itu dilihat dari kebiasaan. Rasulullah bersabda:"Janganlah memaksakan diri berlebih-lebihan menjamu tamu".
  • Masuk dengan seizin tuan rumah, begitu juga berpaling setelah beres memakan hidangan, kecuali tuan rumah menghendaki tinggal bersama mereka, hal ini sebagaimana di jelaskan Allah dalam firman-Nya:
يَاأََيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا لاَ تَدْخُـلُوْا بُيُـوْتَ النَّبِي ِّإِلاَّ أَنْ يُؤْذَنَ لَكُمْ إِلَى طَـعَامٍ غَيْرَ نَاظِـرِيْنَ إِنهُ وَلِكنْ إِذَا دُعِيْتُمْ فَادْخُلُوْا فَإِذَا طَعِمْتُمْ فَانْتَشِـرُوْا وَلاَ مُسْتَئْنِسِيْنَ لِحَدِيْثٍ إَنَّ ذلِكُمْ كَانَ يُؤْذِى النَّبِيَّ فَيَسْتَحِي مِنْكُمْ وَاللهُ لاَ يَسْتَحِي مِنَ اْلحَقِّ
"Wahai orang-orang yang beriman janganlah kamu memasuki rumah-rumah Nabi kecuali bila kamu diizikan untuk makan dengan tidak menunggu-nunggu waktu masak maknannya, tetapi jika kamu diundang maka masuklah dan bila kamu selesai makan maka keluarlah kamu tanpa asyik memperpanjang percakapan. Sesungguhnya yang demikian itu akan mengganggu Nabi. Lalu Nabi malu kepadamu untuk menyuruh kamu keluar. Dan Allah tidak malu menerangkan yang benar"12
Oleh karena itu berusahalah untuk tidak memberatkan tuan rumah.
  • Mendahulukan yang lebih tua dari yang muda serta mendahulukan yang lebih kanan dari yang kiri, sebagaimana Rasulullah tatkala beliau memberikan minuman pada suatu kaum beliau berkata: اِبْدَؤُوْا بِاْلَكبِيْرِ "Mulailah dari yang tua"
Beliau juga berkata :
مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيْرَنَا وَيُجِلَّ كَبِيْرَنَا فَلَيْسَ مِنَّا
"Barang siapa yang tidak mengasihi yang lebih kecil dari kami serta tidak menghormati yang lebih tua dari kami bukanlah golongan kami".
Hadits ini merupakan penghormatan kepada orang tua.
Al-Albani rahimahullah berkomentar setelah membawakan hadits Ibnu Umar dia berkata: Rasulullah bersabda:
أَمَرَنِي جِبْرِيْلُ أَنْ أُقَدِّمَ اْلأَكَابِرَ
"Jibril memerintahkanku untuk mendahulukan yang lebih tua". Dan hadits Rofi' bin Khudaij serta hadits Suhail bin Abi Hasmah keduanya berkata (dalam hadits al Qosamah) Berangkatlah Abdul Rahman bin Suhail sedangkan ia orang yang paling muda yang ada di kelompok tersebut. Dia mendahului berbicara sebelum kedua temannya, maka Rasulullah menegurnya: "Dahulukan orang tua, orang tua adalah orang yang lebih tua usianya". Juga hadits Aisyah radhiallahu anha, ia berkata: "Rasulullah bersiwak sedangkan disampingnya ada dua orang laki-laki maka turunlah wahyu kepadanya, supaya memberikan siwak kepada orang yang lebih tua".
Al Muhallibi berkata: Hal ini apabila kaum tersebut tidak duduk secara tertib, namun bilamana duduknya tertib maka disunahkan mendahulukan yang kanan.
Kemudian Al-Albani rahimahullah menyebutkan sebuah hadits dari Abdullah bin Abi Habibah radhiallahu anhu dia ditanya apakah engkau mendapatkan sesuatu dari Rasulullah ? Abdullah bin Abi Habibah menjawab: "Rasulullah mendatangi masjid kami (masjid Quba), kemudian aku datang, waktu itu aku masih kecil dan aku duduk di samping kanannya (Rasulullah) dan Abu Bakr duduk di sebelah kirinya. Beliau meminta minuman lalu minum dari air tersebut, kemudian beliau memberikan minuman tersebut kepada-ku, di mana aku berada di samping kanannya, kemudian aku meminumnya lalu berdiri melaksanakan sholat dan beliau sholat dengan memakai kedua sendalnya". Al-Albani rahimahullah berkata: "Hadits ini merupakan dalil bahwasannya yang memberi minum itu dimulai dari sebelah kanan dan bukan orang yang paling tua dari kaum tersebut atau orang yang paling alim atau paling mulia".
Diriwayatkan dalam sebuah hadits bahwasannya Rasulullah tatkala minum, di samping kanannya terdapat orang badui dan di samping kirinya Abu Bakr, dan Umar berada di hadapannya. Umar berkata: Wahai Rasulallah! Berikan kepada Abu Bakr dan Ia takut kalau Rasulullah memberikan minuman tersebut kepada orang baduy tersebut, akan tetapi Rasulullah enggan memberikannya kepada Abu Bakr kemudian beliau memberikannya kepada orang baduy sambil berkata:
اَْلأَيْمَنُوْن َاَْلأَيْمَنُوْنَ, اَْلأَيْمَنُوَْن
"Dahulukan yang sebelah kanan, dahulukan yang sebelah kanan, dahulukan sebelah kanan".
  • Seorang tamu hendaknya mendo'akan orang yang memberi hidangan kepadanya setelah selesai mencicipi makanan tersebut dengan do'a:

أَفْطَرَ عِنْدَكُمُ الصَّائِمُوْنَ, وَأَكَلَ طَعَامَكُمُ اْلأَبْرَارَ,وَصَلَّتْ عَلَيْكُمُ اْلمَلاَئِكَةُ

"Telah berbuka di samping kalian orang-orang yang puasa dan memakan makanan kalian yang paling bagus semoga malaikat mendo'akan kalian semuanya"

اَللّهُـمَّ أَطْعِمْ مَنْ أَطْعَمَنِي, وَاْسقِ مَنْ سَقَانِي

:"Ya Allah berilah makanan kepada orang telah yang memberikan makanan kepadaku dan berilah minum kepada orang yang telah memberikan kepadaku minuman".

اَللّهُـمَّ اغْـفِرْ لَهُمْ وَارْحَمْهُمْ وَبَارِكْ لَهُمْ فِيْمَا رَزَقْتَهُمْ

:"Ya Allah ampuni dosa mereka dan kasihanilah mereka serta berkahilah rizki mereka".
  • Disunahkan tidak mengarahkankan pandangan kepada teman duduknya dan mengutamakan orang yang lebih butuh dari pada dirinya, bilamana di belakangnya ada orang yang berdiri, perintahkan dia supaya duduk dan bilamana menolak maka biarkanlah. Ataupun orang yang berdiri itu seorang hamba sahaya dan pelayannya, karena ingin sesuatu maka berilah dia minum dan ambilkan dari makanan yang terbaik kemudian menyuapkannya, bilamana dia makan bersama orang buta beri tahukan tentang makanan yang ada dihadapannya.
  • Tidak mengapa saling memberi makanan satu sama lainnya, akan tidak boleh berpindah-pindah dalam menyantap satu hidangan ke hidangan yang lain. Bagi orang yang menyediakan makanan atau salah seorang keluarganya diperbolehkan menyediakan makanan yang khusus bagi tamu tertentu yaitu makanan yang baik bagi sebagian tamu selama hal tersebut tidak menyakiti yang lainnya, sebab hal itu diperbolehkan bagi orang-orang khusus atau di sunahkan memberikan (ke-khususan) kepadanya.
  • Menghidangkan apa yang ada tanpa berlebih-lebihan dan tidak meminta izin mereka ketika mau menghidangkan makanan tersebut.
  • Dari adab orang yang memberikan hidangan ialah melayani para tamunya dan menampakkan kepada mereka kebahagiaan serta menghadapi mereka dengan wajah yang ceria dan berseri-seri.
  • Di antara adab orang yang memberikan hidangan ialah mengajak mereka berbincang-bincang dengan pembicaraan yang menyenangkan, tidak tidur sebelum mereka tidur, tidak mengeluhkan dengan kehadiran mereka, bermuka manis ketika mereka datang, merasa kehilangan tatkala pamitan pulang, tidak berbicara dengan suatu masalah yang dapat mengagetkan mereka, tidak marah pada seseorang di hadapan mereka bahkan berusaha memberikan kegembiraan pada hati-hati mereka semaksimal mungkin dan menanyakan ketidakhadiran anak-anak mereka secukupnya.
  • Tidak menunggu kehadiran sahabat karibnya bilamana jamuan telah dihidangkan.
  • Mengundang mereka untuk menyantap makanan dengan bahasa yang paling indah. Allah telah berfirman yang mengisahkan tamunya Nabi Ibrahim Alaihissalam:

فَرَاغَ إِلىَ أَهْلِهِ فَجَاءَ بِعِجْلٍ سَمِيْنٍ . فَقَرَّبَهُ إِلَيْهِمْ قَالَ آلاَ تَأْكُلُوْنَ

"Dan Ibrahim datang pada keluarganya dengan membawa daging sapi (26) kemudian ia mendekatkan makanan tersebut pada mereka sambil berkata: Tidakkah kalian makan".
  • Mendekatkan makanan kepada tamu tatkala menghidangkan makanan tersebut sebagaimana Allah ceritakan tentang Ibrahim Alaihissalam: فَقَرَّبَهُ إِلَيْهِم ْ"Kemudian Ibrahim mendekatkan hidangan tersebut pada mereka".
  • Tamu meminta persetujuan pelayan untuk menyantap makanan dan tidak menanyakan kepada tuan rumah tentang keadaan rumah kecuali kiblat dan WC. Tamu juga tidak melihat-lihat ke arah tempat keluarnya perempuan, tidak menolak tempat duduk yang telah disediakan untuk menghormatinya, dan tidak menahan diri untuk mencuci ke dua tangan. Bilamana dia melihat tuan rumah bertindak dengan sautu tindakan maka dia tidak menghalanginya untuk melakukan hal seperti itu.
  • Diperbolehkan memakan makanan yang ada di rumah kerabat dan teman karib bilamana makanan itu berada pada tempat yang tidak terjaga, apabila dia mengetahui atau menduga kerelaan orang yang memiliki memakan tersebut menurut adat kebiasaan yang ada.
  • Tidak banyak melihat pada arah datangnya makanan.
  • Mempercepat untuk menghidangkan makanan bagi tamu sebab hal tersebut merupakan penghormatan bagi mereka.
  • Imam Ibnu Jauzi rahimahullah berkata: Dan janganlah dia memberatkan temannya untuk mengatakan kepada tamu “makanlah” bahkan berusaha untuk selalu bermuka manis dan tidak bermuka masam. Tidak membuat hal yang menjijikan orang lain, tidak mengibaskan tangannya di atas piringnya, juga tidak mendekatkan wajahnya ke piring makanan tatkala dia menyuap makanan ke dalam mulutnya, bilamana ia mengeluarkan sesuatu dari mulutnya untuk dibuang maka hendaklah dia memalingkan wajahnya dari makanan dan memegang wajahnya dengan tangan kirinya, tidak memasukan sisa suapan ke dalam kuah, dan tidak memasukan makanan yang berlemak ke dalam cuka, serta tidak mencelupkan cuka ke dalam makanan yang berlemak sebab hal tersebut membuat tamu yang lain tidak senang.
  • Termasuk adab (bertamu), tidak banyak melirik-lirik kepada wajah orang-orang yang sedang makan.
  • Seyogyanya tuan rumah tidak mengangkat tangan dari hidangan sampai mereka selesai menyantap hidangan kecuali dia mengetahui kerelaan mereka dengan hal tersebut.
  • Makan diatas sufroh (seperai makan) lebih diutamakan daripada makan diatas meja makan. Imam Bukhari telah meriwayatkan dari Anas r.a beliau berkata: "Bahwasannya Rasulullah tidak makan di atas meja makan juga tidak makan roti yang lembut hingga akhir hayatnya".
  • Di sunnahkan mengiringi tamu hingga pintu rumah. Tatkala Abu Abdul Qosim bin Abdus Salam berkunjung kepada Imam Ahmad bin Hambal semoga Allah merahmati mereka berdua. Abu Ubaid berkata: Tatkala aku hendak berdiri diapun berdiri, aku berkata kepadanya: “Jangan engkau lakukan itu wahai Abu Abdallah, As Sya'bi berkata: “Dari kesempurnaan sikap berkunjung adalah berjalan bersamanya ke pintu rumah hingga mengambilkan tali kendaraannya
  • Hendaknya orang yang berkunjung mendo'akan tuan rumah yang bertaqwa dan tidak fasik dengan do'a dibawah ini sesuai dengan sabda Rasulullah :
لاَ تُصَاحِبْ إِلاَّ مُؤْمِنًا,وَلاَ يَأْكُلُ طَعَامَك َإِلاَّ تَقِيٌّ
"Janganlah engkau berteman melainkan dengan orang mu'min, dan jangan memakan makanan kalian melainkan orang yang bertaqwa".
  • Tidak mengkhususkan jamuan hanya untuk orang kaya saja dan menghiraukan orang miskin sebagaimana Abu hurairah berkata : "Sejelek-jeleknya makanan adalah makanan orang hajatan, di mana yang di undang hanya orang-orang kaya sedangkan orang-orang miskin di biarkan saja, barang siapa yang tidak menghadiri undangan maka ia telah berbuat dosa kepada Allah dan Rasul-Nya"
  • Seorang tamu hendaknya pulang dengan memperlihatkan budi pekerti yang mulia dan meminta maaf pada tuan rumah atas segala kekurangannya.
  • Dari Abu Abdur Rahman bin Abu Bakr As Siddiq semoga Allah merido'i mereka berdua beliau berkata: Datang kepada kami sekelompok tamu, sementara ayahku ingin menghadap Rasulullah dari sejak malam. Abu Abdurrahman bercerita: Maka ayahku pergi (menuju Rasulullah ), kemudian berpesan: Wahai Abdur Rahman selesaikanlah urusan tamumu. Abdur Rahman bercerita: Tatkala malam tiba aku menjamu mereka. Abdul Rahman berkata: “Mereka menolak sambil berkata: (Kami tidak menyantap hidangan ini) sampai datang tuan rumah kami dan makan bersama kami". Abdul Rahman berkata: Aku berkata pada mereka: Dia (Abu Bakr) adalah orang yang keras, bilamana kalian tidak makan aku takut terkena amarahnya. Abdul Rahman berkata: "Mereka tetap menolak", Maka tatkala dia datang, dia tidak memulai menyantap makanan mendahului mereka. Abu Bakr bertanya: “Apakah kalian telah selesai menyantap hidangan kalian?”, Mereka menjawab: “Demi Allah belum”, Abu Bakr berkata: “Tidakkah aku perintahkan Abdur Rahman?” Abdul Rahman berkata: “Kemudian aku berpaling darinya” lalu dia berkata: “Hai Abdul Rahman!” Aku tetap berpaling darinya. Maka ia berkata: “Hai bodoh aku bersumpah padamu bilamana engkau mendengar suaraku kemarilah!”. Abdul Rahman berkata: “Kemudian aku menghadap kepadanya, dan berkata: Demi Allah, aku tidak berdosa, mereka itu tamu-tamumu, tanyakan kepada mereka!, aku telah membawakan kepada mereka hidangan dan mereka menolak untuk menyantapnya hingga engkau datang”. Abdul Rahman berkata: “Abu Bakr bertanya: "Mengapa kalian menolak hidangan dari kami?" Abdul Rahman berkata: Berkata Abu Bakr: Aku tidak akan memberi makan padanya malam ini. Mereka menjawab: "Demi Allah kami tidak akan makan hingga engkau memberikan makanan kepadanya". Abdul Rahman berkata: "Aku tidak pernah mengalami keburukan seperti apa yang menimpaku pada malam ini, celaka kalian mengapa kalian menolak hidangan bagi kalian", kemudian Abu Bakr berkata: "Adapun yang pertama adalah dari setan, makanlah hidangan kalian. Kemudian mereka membaca basmalah dan memulai menyantap makanan. Abdur Rahman berkata: Tatkala hari sudah siang dia pergi kepada Rasulullah , kemudian berkata: Wahai Rasulullah mereka berbuat baik sedangkan aku menyia-nyiakannya, maka dia menceritakan peristiwanya, kemudian Rasulullah mengabarkannya dan bersabda: (Engkau orang yang paling baik dan terpilih diantara mereka) Abu Bakr berkata: Engkau tidak mengabarkan padaku untuk menebus dosanya".

Kesimpulan hadits ini adalah
  • Tidak menghiraukan tamu karena sibuk dengan suatu pekerjaan dan kemaslahatan, hal itu boleh dilakukan apabila ada orang yang bisa melayaninya.
  • Bagi tamu tidak dianjurkan menahan dirinya untuk memenuhi keinginan tuan rumah dalam masalah yang berhubungan dengan hidangan, dan tidak pula menghalanginya untuk menyediakan hidangan tersebut baginya. Namun, bilamana ia mengetahui bahwa tuan rumah memaksakan diri menyediakan hidangan tersebut dengan susah payah karena malu darinya, maka hendaklah dia menolaknya dengan lembut, sebab bisa jadi tuan rumah bermaksud lain di mana dia merasa berat baginya menampakkan maksud tersebut dan merasa berat pula menolak kehendak tamunya.
  • Bercakap-cakap dengan tamu dan keluarga, sebagaimana Imam Bukhari menulis sebuah bab dalam kitabnya (Bab Fi Qaulid Dhaif Li Shahibihi Laa Akulu Hatta Ta'kulu/ Bab perkataan tamu pada temannya saya tidak akan makan hingga engkau makan) sebab para tamu menolak hidangan itu karena ada kemaslahatan yaitu mungkin Abu Bakr tidak mendapatkan makan malam.
  • Bersembunyi karena khawatir akan sesuatu yang menyakitkan, perbuatan tersebut boleh dilakukan oleh seorang anak terhadap ayahnya.
  • Hendaknya seseorang berusaha semaksimal mungkin agar tidak memberatkan tuan rumah, sebagaimana firman Allah Swt:
فَإِذَا طَعِمْتُمْ فَانْتَشِرُوْا"Bila kamu selesai makan maka keluarlah".7
  • Abu Bakr bin Abi Dunya meriwayatkan, beliau berkata: Berkata Abu Abdul Qosim bin Salam: Suatu ketika aku berkunjung kepada Ahmad bin Hanbal, saat aku memasuki rumahnya ia berdiri dan memelukku, kemudian mendudukkanku di tempat duduknya, aku berkata: "Wahai Abu Abdallah! bukankah di katakan bahwasanya tuan rumah lebih berhak untuk duduk di depan rumahnya atau di tempat duduknya". Beliau berkata: "Benar, dia boleh duduk dan mendudukkan siapa saja yang diinginkannya". Aku berkata dalam hatiku: "Wahai Abu Ubaid! Ambillah hal ini sebagai pelajaran untukmu", kemudian aku berkata: "Wahai Abu Abdallah!, seandainya aku mendatangimu sebatas keberhakanmu, maka aku akan mendatangimu setiap hari", ia berkata: "Janganlah berkata seperti itu, sesungguhnya aku mempunyai beberapa saudara yang tidak pernah aku temui di selama satu tahun melainkan setahun sekali saja, dan aku percaya akan kecintaan mereka dari pada orang yang temui setiap hari", Aku berkata dalam hati: "Ini sebuah pelajaran yang lain wahai Abu Ubaid", Lalu tatkala aku hendak berdiri ia berdiri bersamaku. Aku berkata: "Wahai Abu Abdallah! janganlah engkau lakukan hal itu", Kemudian ia berkata: Berkata As Sya'bi: Dari kesempurnaan pelayanan bagi orang yang sedang berkunjung adalah berjalan bersamanya sampai pintu rumah dan mengambil (tali) kendaraannya", Aku berkata: "Wahai Abu Abdallah! dari siapa As Sya'bi meriwayatkan adab seperti ini? beliau berkata: Ibnu Abi Za'idah dari Mujalid dari As Sya'bi. Aku berkata dalam hatiku: Wahai Abu Ubaid ini adalah pelajaran yang ketiga bagimu.


adab menaiki kenderaan.....

ADAB MENAIKI KENDERAAN AWAM




















Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Di antara adab-adab yang baik yang perlu diperhatikan semula ketika menaiki kenderaan awam:

1)Menaiki kenderaan sebaiknya dengan kaki kanan dahulu

2)baca Basmalah dan doa naik kenderaan serta berdoa untuk mencari kebaikan dan ketakwaan agar Allah menghindarkan pemandangan buruk dalam perjalanan, kesusahan perjalanan dan memendekkan jauhnya perjalanan itu. Ada doa khas dari sunnah untuk maksud ini-

الله اكبر x3 

سبحان الذي سخرلنا هذا وما كنا له مقرنين .وانا الى ربنا لمنقليبون


اللهم انا نسألك فى سفرنا هذا البر والتقوى
 و من العمل ماترضى
اللهم هون علينا سفرنا هذا وطوعنا بعده

اللهم انت الصاحب فى السفر والخليفة فى الأهل

اللهم انى أعوذبك من وعثاء السفر وكأبة المنظر وسوء المنقلب فى لأهل والمال

Allahu Akbar 3X,

Subhanallazi sakharolana haza wama kunna lahu muqrinin, wainna ila rabbina lamunqolibun.

Allahumma inna nasaluka fi safarina haza albirra wa taqwa wamin 'amali ma tardho

Allahumma hawwin 'alaina safarana haza watwu 'anna bu'dahu .

Allahumma antas sohibu fis safari walkholifatu fi ahli

Allahumma inni 'auzubika min wi'sa is safari, wa kaabatil manzhori, wa suuil munqolabi fil ahli wa mali.

3)Jika kita dapat tempat duduk dan ada golongan tua,wanita mengandung,OKU dan kanak-kanak kecil maka berilah tempat duduk kepada mereka dengan sopan santun.

4)Adalah amalan yang baik sekiranya golongan lelaki memberikan tempat duduk kepada kaum wanita sebagai memuliakan mereka,kecuali jika terlampau ramai wanita berdiri,jadi untuk mengelakkan tersinggul adalah lebih baik kita duduk

5) Kaum wanita sebaiknya duduk bersebelahan dengan kaum wanita dan begitu juga kaum lelaki.Jika kaum lelaki duduk bersebelahan dengan kaum wanita dan ada juga orang lain sebegitu maka adalah lebih terhormat jika minta tukar tempat duduk supaya wanita bersama wanita dan lelaki bersama lelaki terutama di dalam bas ekspres/kapal terbang yang panjang masa perjalanannya. Ini adalah untuk kebaikan kamu umat Islam supaya tidak diperdaya syaitan dengan bisikan-bisikannya

6)Apabila di dalam bas banyak tempat kosong maka adalah lebih baik kaum wanita duduk bersebelahan kaum wanita daripada duduk di tempat kosong yang lain kerana dikhuatiri nanti naik kaum lelaki duduk bersebelahan maka boleh jadi kamu dapat dosa kerana duduk bersentuhan atau tersinggung ketika keluar masuk tempat duduk.Yang hairannya ada kaum wanita lebih suka duduk di sebelah lelaki dari duduk di sebelah perempuan. Ketahuilah kaumHawa harga dirimu bertambah apabila pergaulan kamu dengan lelaki seperti di bawah:

Semakin kurang bergaul dengan lelaki --------harga diri bertambah ^
Semakin tidak segan kepada lelaki --------harga diri berkurang

7)Jika ada yang membuat maksiat di dalam kenderaan awam maka adalah wajar jika konduktor,pemandu atau penumpang lain menegur pasangan berkenaan supaya takut kepada Allah atau pasang cd alquran atau ceramah agama. Jika tidak mampu juga berdoalah agar Allah memberi hidayah kepada mereka

8)Jika syarikat kenderaan awam membuat ruangan khas untuk penumpang wanita maka duduk di ruangan khas bagi wanita adalah salah satu sifat yang menunjukkan kamu ada kemuliaan diri

9)Bacalah buku agama,quran atau lain-lain bahan bermanfaat dalam perjalanan.

10)Jika kamu berduaan sahaja dengan pemandu teksi/bas bukan Islam atau bersebelahan tempat duduk dengan penumpang bukan Islam , cubalah dakwahnya kepada Islam.Kalau tidak bersedia seperti penat,sakit dan sebagainya berdoalah agar Allah memberi hidayah kepada mereka. Jika kamu tidak pandai berdakwah berdoalah agar ada ulama membuat kursus dakwah atau jemaah dakwah baru yang lebih baik dari jemaah sedia ada.

11)Bersyukur kepada Allah ketika sampai dengan selamat. Ada juga doa dari sunnah ketika sampai dari perjalanan iaitu Aaibuuna, Taaibuuna ,'aabiduuna lirabbina haamiduna. (aa menunjukkan bacaan panjang)

Wednesday, December 29, 2010

Adab kepada guru

Menurut Imam al-Ghazali seseorang murid hendaklah:

Memberikan sepenuh perhatian kepada gurunya.
• Mendiamkan diri sewaktu guru sedang menyampaikan pelajaran.
• Menunjukkan minat terhadap apa yang disampaikan oleh guru.
• Tidak meninggikan suara terhadap guru, sebaliknya memadailah berkata dengan suara yang didengari.
• Sekiranya perlu bertanya, pastikan guru bersedia memberikan jawapan.
 Menghormati guru di hadapan dan belakangnya.
• Menutup kelemahan guru agar tidak didedahkan tanpa keperluan.
• Mendoakan kebaikan baginya.

Monday, December 27, 2010

hasrat yang ingin di capai didlam pembelajaran akhlak ini adalah :

1) melahirkan insan kamil
2) untuk meneruskan sunnah Rasulullah SAW
3) melahirkan insan yang beradab
4) menjaga hubungan dengan ibu bapa terutamanya,guru n rakan2..







Sunday, December 26, 2010

subjek akhlak adalah satu subjek yang memang sesuai untuk pelajar..ini kerana secara tidak langsung ia dapat mengajar atau mendidik pelajar kearah pembangunan sahsiah diri sperti yang di saran kan oleh KBSR N KBSM yang maner pembelajaran adalah untuk melhirkan insan yang seimbang...disamping mlhirkan anak bangsa yang bertauliah..mempunyai sikap n kelakuan yang baik...dengan ini kami menyokong subjek ini diadakan di setiap sekolah...

Saturday, December 11, 2010

Semangatlah Duhai Teman!!!

Dalam mencari keredhaan Allah terdapat banyak dugaan...
terkadang kita akan jatuh...
terkadang kita akan bangun...
maka,
yang jatuh jangan diratapi...
yang bangun jangan dibanggai...
kerana,
setiap satu itu ada banyak hikmahnya....
ingatlah semua itu datangnya dari
ALLAH...

tip menangani stress

Anda inginkan petua-petua untuk menjadi pelajar cemerlang walau di mana sahaja anda berada?
Apa kata kita renungkan kembali beberapa petua atau tips kejayaan yang telah Allah SWT titipkan di permulaan surah Al-Mu'minun, surah yang ke-23 di dalam lembaran Al-Quran.
Keyakinan, kepercayaan and keimanan kepada Allah SWT 
"Sesungguhnya berjayalah orang-orang yang beriman." [23:1]
Iman dan kejayaan disebut oleh Allah SWT dalam ayat yang sama. Maka imanlah faktor utama kejayaan. Dan keyakinan yang tinggi inilah yang akan melahirkan sikap positif yang bakal disebutkan dibawah.
Fokus, bersungguh-sungguh, sepenuh hati
"iaitu orang-orang yang khusyuk dalam solatnya." [23:2]
Lakukan satu-satu perkara dalam satu-satu masa. Jangan mencapah dan melayang fikiran ke sana ke mari. Lakukan dengan sepenuh hati, bukan sambil lewa.
Prioriti. Mengutamakan apa yang utama.
"dan orang-orang yang menjauhkan diri dari lagha (perbuatan dan perkataan yang tidak berguna)." [23:3]
Kebiasaannya dalam menghadapi musim peperiksaan yang penuh tekanan, kita cenderung untuk berehat dan menenangkan minda dengan hiburan, menonton drama, bersembang di Facebook dan seumpanya sehinggakan selalu sahaja melebihi daripada masa rehat yang telah kita peruntukkan. 
Sebaik-baiknya kita mengoptimumkan penggunaan masa untuk belajar, dan mengisi masa rehat kita dengan perkara-perkara yang berfaedah seperti membasuh, melipat atau menggosok baju, bersenam untuk melancarkan perjalanan darah di dalam badan dan bermacam-macam lagi yang anda sendiri lebih sedia maklum.
Namun, sebaik-baiknya kita gunakan masa rehat itu untuk mengambil wudu', melakukan solat sunat dan membaca Al-Quran. InsyaAllah apabila kita lebih rapat dengan Allah SWT, jiwa kita akan lebih tenang dan ia akan banyak membantu dalam usaha kita mengulangkaji pelajaran.
Kita dikehendaki menghindarkan diri dari perbuatan mengumpat pensyarah/guru kerana perkara-perkara sebegini tidak mendatangkan faedah kepada masa depan anda, tidak menambahkan markah untuk kertas peperiksaan yang bakal/telah diduduki, malah boleh mendatangkan dosa dan kemurkaan Allah SWT.
Prihatin sesama kita
"dan orang-orang yang menunaikan zakat." [23:4]
Walaupun sedang berada di saat-saat genting, janganlah kita bersikap terlalu mementingkan diri, dan mengabaikan kawan-kawan yang lebih susah di sekeliling kita. Kongsilah apa yang termampu, samada ilmu, kertas-kertas soalan tahun lepas dan lain-lain. Sharing is caring.
Jaga hubungan antara lelaki dan perempuan
"dan orang-orang yang menjaga kehormatannya. kecuali terhadap isteri-isteri mereka, atau hamba yang mereka miliki, maka mereka (isteri dan hamba) dalam hal ini tiada tercela. Sesiapa yang mencari dibalik itu, mereka itulah orang-orang yang melampaui batas." [23:5,6,7]
Janganlah kita menggunakan alasan belajar untuk melanggari batas-batas pergaulan antara lelaki dan perempuan ajnabi, misalnya dengan studi berdua-duan, kemudian pulang ke rumah berpimpin tangan, atau asal tertekan je mesti nak bergayut atau berchatting dengan kawan lelaki/perempuan anda.
Padahal Allah SWT kan sentiasa ada, sentiasa melindungi dan sentiasa menolong jika kita mencari dan meminta pada-Nya.
Jujur, amanah
" dan orang-orang yang memelihara amanah-amanah dan janjinya."[23:8]
Bukankah kita telah berjanji dengan pihak penaja dan ibu bapa kita untuk belajar bersungguh-sungguh? Lebih penting lagi, bukankah kita telah berjanji dengan Allah SWT untuk memanfaatkan peluang kehidupan sebagai seorang pelajar yang telah dipinjamkan-Nya kepada kita sebagai medan untuk kita mengutip ilmu, pengalaman dan pahala buat bekalan di akhirat sana?
Elakkan menipu ketika peperiksaan. Andai penjaga peperiksaan meminta kita berhenti menulis kerana masa sudah tamat, jangan pula kita terus menulis. Sebaliknya sebutlah "Bismillahi tawakkaltu 'ala Allahi wala haula wala quwwata illa billahil 'azim."
Tepati waktu
"dan orang-orang yang memelihara solatnya." [23:9]
Konsep yang boleh diambil dalam konteks kehidupan seorang pelajar Muslim ialah supaya sentiasa belajar dengan berdisiplin, menepati masa, tidak berlengah-lengah, menjaga kualiti dan produktiviti harian kita. Jika sebelum ini kita diingatkan supaya berhenti menulis apabila tamat masa peperiksaan, kita juga perlu memulakan perjuanganan kita dalam pelajaran dan peperiksaan seawal yang mungkin. Memelihara solat lima kali sehari setiap hari juga mengajar kita untuk tidak berputus asa atau berpatang arang di pertengahan jalan.
Namun janganlah kita hanya mengaplikasikan konsep-konsep ini untuk akademik semata-mata. Penekanan utama dalam ayat tersebut supaya kita menjaga hubungan kita dengan Allah SWT kerana kita akan kembali mengadap-Nya dengan amal-amal kita, bukan dengan berapa gulung ijazah yang berjaya kita perolehi. Belajar dan ijazah hanyalah alat untuk kita mencapai keredhaan Allah SWT dan merebut peluang mewarisi syurga-Nya.

Monday, December 6, 2010

Tidak ada manusia yang merancang untuk gagal
Yang ada hanyalah manusia yang gagal untuk merancang
Hendak seribu daya, mahu seribu upaya
Di mana ada kemahuan, di situ ada kejayaan

Orang CEMERLANG menunjukkan HASIL
Orang GAGAL member ALASAN

Renungan bersama....

Kasih Sayang Allah Kepada HambaNya
www.iLuvislam.com
ahliahnizam
Editor : kasihsayang



Seandainya manusia ingin menghitung nikmat-nikmat pemberian Allah swt, maka mereka tidak akan mampu menghitungnya. Sekalipun air laut dijadikan tinta, seluruh ranting kayu dijadikan pena dan dedaun pokok yang ada di muka bumi ini dijadikan kertasnya, maka ia tidak akan pernah selesai. Betapa besar dan banyak nikmat yang Allah swt kurniakan disekeliling kita.

Tetapi kita sering lupa dan lalai untuk bersyukur kepada yang Maha Memberi. Malah kita membalas dengan menggunakan nikmat-nikmat itu untuk melakukan maksiat kepadaNya.

Ketika kita melangkah kaki keluar, menghayunkan tangan, menghirup udara yang segar dan menikmati cahaya matahari yang terang dan bersinar, pernahkah kita terfikir dari mana datangnya semua nikmat-nikmat ini?

Sekiranya Allah swt mengarahkan semua kemudahan dan nikmat yang diberiNya kepada kita harus di bayar menggunakan wang, berapa banyak yang harus kita keluarkan untuk membayar semua itu?

Tepuk dada tanya iman.

Kita sering lupa dan melupakan apa yang kita miliki. Sebaliknya selalu memikirkan bagaimana untuk mendapatkan apa yang kita belum miliki. Mungkin kita harus bertanya soalan ini kepada diri sendiri:

"Mahukah aku kalau ada orang mahu membeli sepasang mataku dengan jutaan ringgit?".

"Mahukah aku tukarkan kedua-dua belah tangan ku ini dengan emas yang bertan-tan?"

Dan bahagian-bahagian tubuh kita yang lain. Hati, buah pinggang, jantung, dan lain-lain?

Siapakah yang mahu menukar hidupnya dengan seluruh harta benda duniawi?

Ingatlah, hidup ini sendiri adalah nikmat dari Allah swt.

Firman Allah yang bermaksud; "Maka nikmat Allah yang mana lagi yang kamu dustakan?"

InsyaAllah, semoga kita sama-sama dapat renungkan. Mari kita terus bersyukur dengan nikmat  kurniaan Allah dan terus sabar mengahadapi ujianNya.

~ Rahsia Kongsi Bersama ~

TalkingTeknik Membuat Nota Ringkas


BERIKUT disenaraikan teknik atau susun cara atau pusingan pembelajaran yang boleh diamalkan . Ia boleh diubahsuai mengikut kesesuaian pelajar masing-masing :

1. Pilih satu tajuk dan baca nota .

2. Faham kandungan secara umum untuk menentukan fakta atau pokok persoalan .

3. Baca dan garis fakta .

4. Baca dan cuba fahamkan kaitan antara fakta yang digariskan dengan nota asal .

5. Keluarkan fakta dan salin pada kertas lain .

6. Faham fakta dan kaitannya dengan keseluruhan fakta daripada tajuk itu .

7. Susun fakta ( jika perlu )

8. Cuba tulis semula fakta-fakta tanpa melihat fakta-fakta yang telah ditulis dahulu .

9. Bandingkan apa yang kamu tulis .

10. Ulang hingga kamu puas hati .

11. Ulang membaca fakta , jika ada masa.

12. Simpan dengan baik untuk tujuan ulang kaji .

13. Mulakan tajuk baru dan lakukan proses no. 1 hingga no. 12, sehingga habis kesemua tajuk dalam sukatan pelajaran.


Friday, December 3, 2010

Rahsia-rahsia di sebalik pengurusan masa pelajar cemerlang.

  1. Masa sebelum tidur -  masa berbaring sebelum tidur. Aamalkan teknik belajar secara bayangan. Menulis atau menyelesaikan masalah dengan cara menulis dengan menggunakan jari telunjuk di atas tilam.
  2. Masa terbangun di tengah malam( Belajar seperti No.1)
  3. Masa bangun tidur. Subuh/pagi.Bayangkan pelajaran semalam.
  4. Masa ke tandas waktu pagi (ingatkan perkara yang terlupa)
  5. Masa ke tandas waktu malam (sama seperti No.4)
  6. Masa bercermin (Lekatkan Nota penting Dekat cermin)
  7. Masa sarapan pagi (Baca selembar dua suratkhabar)
  8. Masa berjalan ke sekolah (Tanya diri-sifir dan formula)
  9. Masa menunggu bas (Ulangkaji kad nota atau bayangkan)
  10. Masa di dalam bas atau kereta (ulangkaji harian/cepat)
  11. Masa berjalan ke sekolah ( Tanya diri pasal sifir , formula dan lain-lain lagi)
  12. Masa sampai awal pagi ke sekolah ( ulangkaji harian/cepat)
  13. Masa menunggu cikgu yang terlewat(ulangkaji cepat)
  14. Masa rehat (ke perpustakaan baca ringkas buku-buku)
  15. Masa sebelum pulang (Lwatkan pulang buat kerja rumah)
  16. Masa berjalan pulang ( tanya diri pasal sifir)
  17. Masa berada dalam bas ( baca kad nota)
  18. Masa rehat selepas makan (baca novel/majalah)
  19. Masa rehat selepas maka n malam (Baca rencana akhbar dan lain-lain)
  20. Masa menonton tv (melukis rajah-rajah, peta, tulis formula dan lain-lain)